Gadisku

Mentari bersinar seakan ku menatap sinar pandangmu
Kehadiranmu membangkitkan semangat hidupku
Wajahmu adalah cermin dunia
Tak inginku kehilangan Mu
seperti bulan dan bintang yang s'lalu bersama menemani malam

Gadisku...

Kini aku sakit karnamu
Bukan racun yang aku minum
Tapi panah cintalah yang tertancap di jantung hati
Tak'kan ku patahkan panahmu
Karma inilah kebahagiaan ku
Disaat bertemu denganmu,...

Gadisku...

Tatapmu membuatku berseri
Kedip matamu merangsang senyumku
Pelukanmu mengisyaratkan kasih sayang
Tak ingin ku kehilangan
Selalu bersamamu yang ku mau...



PT WARNA REKAKREASI NUSANTARA

PT WARNA REKAKREASI NUSANTARA


Perusahaan Jasa Periklanan

DIBUTUHKAN SALESMAN

Tanggal Pemasangan : 26 Juni 2008
Tanggal Penutupan : 11 Juli 2008

Dibutuhkan beberapa Salesman dengan kualifikasi sbb: Pengalaman Sales min. 2 th, Lebih disukai pengalaman sales printing/spanduk, under presure, target, Relasi luas. Bagi yang berminat silahkan melamar ke: PT Warna Rekakreasi Nusantara Jl. Manggis IV No. 9, Surakarta





PT. INDONESIA ANTIQUE

PT. INDONESIA ANTIQUE


PT. Indonesia Antique is a Manufacturer and Exporter of high quality indoor wooden furniture. We have been exporting our product to Europe and USA. We are maintaining the high quality standard in competitive price due to the consistent of our view to have long term business in the future. Our main concern is satisfying the customer by providing them unique design following market trends. Variations, special design and specific requirement from the customers are always welcome. Especially to those which are made out of Original Teak Wood, Mahogany and other wood like Acacia or Mango.

ACCOUNTING & TAX

Tanggal Pemasangan : 09 Juli 2008
Tanggal Penutupan : 16 Juli 2008

PERUSAHAAN EKSPOR FURNITURE DI KOTA SOLO MEMBUTUHKAN :

ACCOUNTING & TAX

KUALIFIKASI :

WANITA, S1 AKUNTANSI
PENGALAMAN MIN 3 THN SEBAGAI ACCOUNTING DI PERUSAHAAN MANUFACTURING

KIRIM LAMARAN KE :
PT. INDONESIA ANTIQUE
JL. LAWEYAN 144B SONDAKAN LAWEYAN SOLO



Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.

Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau".

Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri". Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.




Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT


sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.



Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing".


Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".




Jembatan Maaf

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerja sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ..ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya." Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang." Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak. "Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."