Sebuah Pengalaman yang mengejutkan

malam itu sekitar pukul 19.00 WIB pada hari senin bulan July 2008 aku mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat membuat aku heran.......kenapa ada seseorang yang datang menemuiku di warnet untuk dibuatkan sebuah kepingan CD tanpa aku ketahui ternyata dia minta video porno yang bertemakan GAY coz dia seorang waria ngomong² dia berinisial NR........gugup, takut, serta keringat dingin keluar smua dari tubuhku......ya ampyun teryata dunia ini semakin menjadi-jadi. tanpa panjang lebar omongan saya dengan dia terus saja......aku mau ngomong kalau sebenarnya aku gak bisa tapi dia terus dan terus mendesak aku.....satu yang aku takutkan ........ apakah aku telah membuat DOSA besar yang telah melayaninya untuk membuat sebuah kepingan CD......hanya karna itu aku berfikir kalau semua amalan AGAMA yang telah aku kerjakan tidak ada artinya dengan membuat seperti itu......... Ya Robb ampunillah dosa hambamu ini yang telah membuat dosa selama ini.......Ya Robb berikalan hambamu ini jalan menuju ke Jalan-Mu.

bagi temen-temen yang mempunyai solusi untuk keadaanku sekarang saya mhon tinggalkan Comennt di sini......Terima kasih


Keluarga Sumiarsih Kecewa Eksekusi

Keluarga dari terpidana mati Sumiarsih dan Sugeng kecewa atas eksekusi mati yang dilakukan hari ini. "Kami kecewa, ibu dan Sugeng selalu berbuat baik selama ditahanan. Beliau juga sudah dipenjara sejak tahun 1989," kata Valencia, istri Sugeng.

Apalagi, menurut Valencia, selama di penjara Sumiarsih selalu aktif memberikan pelatihan keterampilan terhadap para narapidana lainnya. "Ini sama halnya dihukum dua kali, karena sudah dipenjara lama tapi masih saja di eksekusi mati," tambah Valencia.

Yang lebih memprihatinkan, keluarga juga selalu dipersulit untuk menjenguk terpidana. Bahkan, keluarga juga sering batal menjenguk lantaran tidak mendapatkan izin dari pihak terkait.

Sementara itu, jenazah keduanya langsung dibawa ke malang untuk dimakamkan di pemakaman umum Samaan, Sukun, Malang.
Sebelum dibawa ke Malang untuk dimakamkan, juga dilakukan upacara doa bagi kedua jenazah yang dilakukan di komplek kamar mayat RSU DR Soetomo Surabaya.



Eksekusi Mati Sumiarsih di Lapangan Terbuka

Eksekusi mati terhadap Sumiarsih dan Sugeng dilakukan di lapangan terbuka."Lokasi persisnya saya kurang tahu, yang jelas dilapangan terbuka dan gelap," kata Soetedja Djaja Sasmita, kuasa hukum Sumiarsih, Sabtu (19/7).

Yang pasti, tambah Djaja, suasana disekitar lokasi sangat dingin karena hembusan angin karena lokasinya di lapangan terbuka. "Mirip di lapangan bola, tapi saya tidak bisa melihat karena disekelilingnya tak tampak satupun bangunan," kata Djaja.

Selain kuasa hukumnnya, eksekusi ini juga disaksikan oleh puluhan petugas dari kejaksaan serta beberapa dokter.
"Usai ditembak, dua dokter langsung diperintah untuk memastikan kondisi keduanya," kata Djaja.

Terpidana yang dieksekusi dalam keadaan kedua mata ditutup kain ini menurut Djaja juga langsung meninggal saat itu juga



Eksekusi Tembak Sumiarsih dari Jarak 20 meter

Sumiarsih dan Sugeng dieksekusi mati dengan cara ditembak dari jarak antara 20-25 meter. Soetedja Djaja Sasmita, pengacara keduanya menuturkan hal ini disela-sela kunjunganya di kamar mayat RSU DR Soetomo Surabaya, dini hari ini (19/7).

"Keduanya ditembak secara bersamaan," kata Soetedja. Eksekusi sendidi dilakukan oleh 24 orang regu tembak dari Brimob Polda Jatim tepat pukul 24.20 tadi.

Terpidana di eksekusi dengan mengenakan pakaian panjang serba putih dengan tanda hitam sebesar kepalan tangan di bagian dada kiri (jantung).

"Seorang dari polisi kemudian memberikan aba-aba berupa ketukan tongkat tiga kali, tiba-tiba langsung terdengar letusan senjata secara bersamaan," kata Soetedja.



Eksekusi Mati Sumiarsih Penuhi Keadilan


Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, Abdul Aziz, mengatakan jika eksekusi bagi Sumiarsih dan Sugeng ini juga telah memenuhi kaidah keadilan dan hukum.

Apalagi, perbuatan dua terpidana dalam menghabisi nyawa keluarga Letkol (Mar) Purwanto dilakukan dengan sadis yaitu dengan cara membunuh dan memasukkan korban ke dalam mobil dan memasukkan kejurang plus membakarnya. "Kita hanya menegakkan hukum, dan mungkin inilah yang paling adil dan bisa kita lakukan," tambah Aziz.

Dengan dieksekusinya dua terpidana ini, di Surabaya saat ini masih ada lagi dua terpidana mati yang menunggu putusan grasi oleh Presiden. "Saya tidak bisa sebut namanya, tapi kalau keputusan presiden turun kita akan langsung eksekusi," kata Aziz