Cerita Tentang Perahu

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia menemukan bangkai
sebuah perahu, "ini perahu nuh," katanya. berbulan-bulan
ia perbaiki perahu itu dan hartanya ludes ke situ.

orang-orang tertawa, anak-anak mengejeknya:
"gila! gila! gila! kapan kau berlayar?"
sambil melempari perahu dengan tahi

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia ingin marah
dan menghardik anak-anak itu. tapi ia ingat kepada nuh
sambil mengurut dada, ia berdoa:
"tuhan, beri hamba kesabaran nuh!"

tapi anak-anak lain datang dan merusak perahunya sambil
mengejek: "gila! gila! gila!"

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia tak lagi sabar
dan akhirnya marah. tiga anak-anak ditangkap dan dihajarnya,
orang-orang marah padanya, balik menghajarnya.

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia menemukan bangkai
perahu lain. "ini perahu nuh" katanya
suster rumah sakit jiwa menampar wajahnya dan berkata:
"tolol, ini kamaluanku."

Cinta adalah sebuah kegilaan. Setidaknya, itu dapat ditangkap dari sajak ini. Entah bagaimana perahu Nuh -- sebagaimana dikisahkan dalam cerita nabi-nabi -- menjelma dalam kepala seseorang, entah siapa, dan bukan siapa-siapa. Anak-anak menyebutnya “gila”.

Tapi, itulah cinta. Dan, Budi pun mengakhiri puisi ini dengan humor pahit dan sedikit (tidak) jorok: "tolol, ini kemaluanku."

Sajak ini seperti ingin menyodorkan sebuah nilai kebenaran, kejujuran, dan kesabaran dari sudut pandang lain berbeda sama sekali.

Membaca "Cerita tentang Perahu", tidak bisa tidak kita segera terhubungkan dengan sebuah sajak Sapardi Djoko Damono ini:

Cinta Menebar dalam Sajak-Sajak Budi P. Hatees*

Terus terang, agak bingung juga ketika saya diminta membahas sajak-sajak Budi P. Hatees yang dibacakan dalam Bilik Jumpa Sastra malam ini, Jumat, 18 Agustus 2006. Lebih bingung lagi ketika saya menerima 30 sajak dalam manuskrip bertitel Mulak, Kumpulan Sedikit Puisi. Rencananya sih mau diterbitkan menjadi buku. Saya punya waktu dua hari untuk sedikit mengapresiasinya. Ya, sekadar mengapresiasi. Sebab, hendak mengkritik rasanya saya tak punya perangkat (semacam teori sastra) memadai untuk itu. Saya harus membatasi diri. Tidak semua sajak dapat saya jelajah secara detil.

Maka, saya hanya ingin melihat sebuah sisi: “cinta” dalam sajak-sajak Budi P. Hatees dalam manuskrip ini. Soalnya sederhana, saya membaca begitu banyak cinta bertebaran dalam manuskrip ini, meski terkadang cinta itu terasa getir. Ya, cinta yang getir.

Maaf, kalau saya pun ingin berbagi rasa soal yang mungkin dianggap sudah basi ini. Tapi, tidak juga. Lihat saja bagaimana penyair masih gemar mengolah cinta dalam syair-syairnya. Tak terkecuali Budi. Tak beda, saya juga. Hahaha….

Cinta, ah....

Arti Sebuah Hubungan


BULAN kian meninggi dan angin kunjung bertiup. Terkadang membelai kumpulan dedaunan pada ranting-ranting pohon berbenalu, menerbangkan debu-debu mikroskopik, juga mempengaruhi kelembaban udara. Menambahkan hawa dingin ke tiap lapisannya. Empat lampu berada di tiap sudut taman dengan cahaya kuning terang berdiri bak tugu selamat datang. Mengundang kehadiran ngengat, beberapa ekor nyamuk, dan kupu-kupu bercorak belang mengelilingi neonnya, seakan sedang berpesta dan ingin melahap cahaya. Menjadikannya sebagai menu utama.

Di tengah-tengah—dekat sebuah pohon pinus raksasa, sepasang insan tengah melepaskan kerinduan seakan telah berpisah dalam waktu yang lama. Duduk di sebuah bangku taman dengan pencahayaan seadanya.

Pandangan mereka lebih lama berkait erat, seakan-akan tak mau lepas. Mereka selalu punya alasan untuk bercakap-cakap sambil saling menatap. Dari balik tumbuhan semak, terlihat turunan Adam dan Hawa itu berciuman. Bibir mereka saling merapat sesaat. Keduanya tengah larut akan sensasi jalinan hubungan yang sebenarnya.

Dalam hitungan detik, bibir mereka telah menjauh.

Muka sang wanita memunculkan semburat, bagai langit sore yang kebetulan saat itu tak tertutup awan. Rambutnya panjang bergelombang dengan warna hitam yang menawan. Wajahnya teduh bagai pohon penghalau terik mentari dan bibir mungilnya seakan menjadi pelengkap semua keindahan fisik yang dibuat dengan cita rasa seni bernilai tinggi. Ia mengecap bibirnya sekali.

“Kenapa kau mencium aku?” Bisik Julie dengan suara bergetar. Pandangannya tajam menembus kalbu lelaki di hadapannya dan malah ikutan tersipu.

“Karena aku ingin menciummu,” kata Crish dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan segala perasaannya. Whatever will be, will be. Que sera sera!

“Tetapi aku tidak ingin...” ucapan Julie terputus, masih bergetar walau agak samar.

Crish tersenyum lembut. Wajahnya yang oval dan penuh pesona tak kuasa untuk diacuhkan. “Tidak ingin dicium?” tanyanya pelan sambil melawan pandangan Julie dengan sekuat hati.

Julie lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Air mukanya tiba-tiba mengeruh, seperti sungai besar yang penuh lumpur akibat hujan berkepanjangan.

Crish diam, menguatkan hati, merasa tidak punya pilihan lain. “Aku mencintaimu, Julie. Aku sayang padamu,” jelas James. “Kita sudah berpacaran hampir empat tahun lamanya. Kau sudah mengenalku luar-dalam dan begitu pula aku telah mengetahui baik dan jelek sifatmu.”

Julie tetap memandang tanpa gentar. Siluet senyuman muncul di bibirnya. Matanya seolah-olah bertanya, apa yang sebenarnya akan dikatakan Crish.

“Se... sebenarnya, aku mengajakmu ke sini karena ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan,” ucap Crish panjang.

“Apa?”

Crish terdiam, mengumpulkan kembali keberaniannya. Ia merogoh sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya, kemudian memberikannya kepada permaisurinya itu. “Terimalah, Julie. Tanda bahwa aku benar-benar serius menjalani empat tahun hubungan di antara kita.”

“Apa ini?” tanya Julie saat ia menerimanya.

“Kotak hadiah. Bukalah. Kau pasti akan menyukainya.”

Julie membukanya perlahan dan matanya terbelalak. Di dalam kotak, ada cincin zambrud tujuh karat, dikelilingi berlian tiga karat, dipasang pada platina. Julie menatapnya dengan rasa tak percaya.

“I... ini terlalu mewah sebagai hadiah,” katanya masih terkejut.

“Aku akan memberimu bulan bila kau memintanya. Julie, aku mencintaimu.”

Julie memeluk pria di depannya itu erat-erat, tenggelam dalam rasa bahagia yang belum pernah dirasakannya. Lalu ia juga mengatakan sesuatu. “Aku juga mencintaimu, Sayang.”

Wajah Crish berseri-seri. “Kalau begitu, maukah kau menikah denganku? Kita...”

“Tidak!” potong Julie. Bunyinya seperti cambukan hebat di telinga Crish.

Crish memandangnya kaget. “Kenapa?”

“Aku tidak bisa.”

“Julie, apakah kau tak percaya aku mencintaimu?”

Sembari menunduk, Julie berkata, “Tentu saja aku percaya.”

“Kau mencintaiku?” Crish memastikan.

“Ya.”

Crish lalu bertanya dengan wajah heran. “Tapi, mengapa kau tidak mau menikah denganku?”

“Tentu saja aku mau sekali, tapi... tapi aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Crish menatapnya binging. Dan Julie tahu, begitu ia menceritakan rahasia ini kepada Crish tentang pengalaman traumatis yang pernah terjadi padanya, Crish pasti tidak akan mau bertemu lagi dengannya. Oleh karena itu, rahasia ini terus disimpannya dari Crish selama empat tahun. Namun hari ini—malam ini, ia akan menceritakan semuanya.

“Aku... aku takkan pernah bisa menjadi istri sesungguhnya bagimu,” katanya. Tak terasa lelehan air mata mengalir di kedua sisi pipinya.

“Apa maksudmu?”

Ini hal paling sulit yang harus Julie katakan. “Crish, kita tak akan pernah bisa berhubungan seks. Saat aku berusia sembilan tahu, aku diperkosa.” Isakan Julie makin terdengar, memilukan. Julie menatap pepohonan yang tidak memedulikan dirinya, menceritakan kisahnya yang getir kepada laki-laki pertama yang dicintainya.

“Aku tidak tertarik pada seks. Aku bahkan kadang jijik jika memikirkannya. Seks membuatku takut. Aku... aku hanya separuh wanita. Aku orang aneh.” Julie terengah, berusaha untuk menghentikan tangisnya.

Crish menyentuhnya. “Aku sangat menyesal, Julie. Pasti kejadian itu sangat mengerikan.”

Wanita itu diam tak menanggapi.

“Seks memang penting sekali dalam sebuah perkawinan,” kata Crish.

Julie mengangguk, menggigit bibirnya. Sepertinya, ia telah tahu apa yang akan dikatakan Crish selanjutnya.

Crish lalu bersuara, “Tetapi perkawinan tidak hanya meliputi hal itu. Perkawinan berarti menghabiskan sisa hidupmu bersama seseorang yang kau cintai. Memiliki seseorang yang bisa kau ajak bicara, tempat berbagi suka dan duka.”

Julie mendengarkan, terpukau, takut mempercayai apa yang didengarnya.

“Seks pada akhirnya akan hilang, Julie. Tapi cinta sejati tidak. Aku mencintaimu karena hati dan jiwamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bahkan jika kau mau, aku bisa hidup tanpa seks.”

Julie mencoba berbicara dengan tenang. “Tidak, Crish. Aku tidak bisa membiarkanmu.”

“Kenapa?”

“Karena kelak kau akan menyesalinya. Kau akan jatuh cinta pada orang lain yang bisa memberikanmu apa yang tidak bisa kuberikan, dan kau pasti akan meninggalkan aku, dan aku patah hati,” Julie berkata sedih.

Crish mengulurkan tangannya, lalu meraih Julie dan memeluknya lagi. “Kau tahu mengapa aku tak akan pernah bisa meninggalkanmu?”

Julie menggeleng dari balik pelukan.

“Itu karena kau adalah bagian terbaik dari diriku. Separuh dari jiwa dan jasadku. Kita akan segera menikah,” ujar Crish bersemangat.

Julie seketika melepaskan pelukan. Ia menatap jauh ke dalam mata Crish. “Apakah kau menyadari keputusanmu, Crish?”

Crish tersenyum dan berkata, “Menurutku kau harus mengatakannya dengan cara lain.”

Julie tertawa lalu kembali memeluknya, “Oh, Sayang. Kau yakin bahwa kau...”

Wajah Crish berseri-seri. “Aku sangat yakin. Apa jawabanmu?”

Air mata kembali mengalir di pipi Julie. “Ya, aku mau. Aku mau menjadi pendamping hidupmu, Crish.”

Crish lalu menyelipkan cincin zambrud itu ke jari Julie dan mereka berpegangan lama sekali. Kedua pancaran mata mereka menunjukkan bahwa adanya semangat hidup baru dengan ikatan yang lebih erat. Ikatan yang akan terus terjalin hingga sepanjang masa. Tak akan pernah terputus. Tak ‘kan terpisahkan.

aku

Inilah aku yang seorang laki-laki yang lahir di dunia pada hari selasa tangga 3 tepatnya bulan april dan di tahun 1990.
yang mempunyai hobi salam bidang pramuka